the status quo bias
mengapa kita sering melewatkan peluang hanya karena takut berubah
Pernahkah kita menyadari betapa seringnya kita memesan menu yang itu-itu saja di restoran favorit? Atau mungkin, kita bertahan dengan layanan internet yang sering buffering hanya karena malas mengurus perpindahan provider. Saya sendiri sering sekali mengalaminya. Kita semua mungkin punya satu celana usang yang enggan dibuang. Atau yang lebih ekstrem, bertahan di pekerjaan yang menguras kewarasan hanya karena sudah terbiasa. Kenapa kita begitu lengket dengan kenyamanan masa kini? Padahal, kenyamanan itu kadang sebenarnya tidak nyaman-nyaman amat. Rasanya ada sebuah rantai tak kasat mata yang menahan kita untuk mengambil langkah baru.
Ternyata, ada nama ilmiah untuk fenomena kocak tapi menyebalkan ini. Para ilmuwan perilaku menyebutnya sebagai status quo bias. Ini adalah kecenderungan ekstrem otak kita untuk mempertahankan keadaan saat ini. Otak kita cenderung melihat setiap perubahan sebagai sebuah ancaman. Mari kita lihat sebuah fakta menarik dari dunia medis. Teman-teman tahu mengapa di negara seperti Austria, tingkat persetujuan donor organ mencapai hampir seratus persen, sementara di Jerman hanya belasan persen? Bedanya bukan pada tingkat kedermawanan warganya. Bedanya murni pada desain formulir pendaftaran. Di Austria, kita otomatis terdaftar sebagai donor kecuali kita menolak atau opt-out. Di Jerman, kita tidak terdaftar kecuali kita mendaftar atau opt-in. Manusia, pada dasarnya, akan memilih jalur yang paling tidak membutuhkan usaha. Kita mencintai setelan default. Tapi pertanyaannya, dari mana asal kemalasan bawaan ini?
Untuk menjawabnya, kita harus memutar waktu jauh ke belakang. Bayangkan kita adalah nenek moyang manusia yang hidup di padang sabana ribuan tahun lalu. Jika mereka menemukan semak beri yang aman dimakan, apakah mereka akan iseng mencari semak baru yang belum teruji kelayakannya? Tentu tidak. Mencoba hal baru di alam liar sering kali berakhir dengan keracunan atau dimakan predator. Bertahan pada apa yang ada adalah strategi bertahan hidup tingkat tinggi. Otak kita mewarisi perangkat keras kuno ini. Di dalam kepala kita, ada sebuah sirkuit psikologis yang disebut loss aversion atau keengganan terhadap kerugian. Psikolog peraih Nobel, Daniel Kahneman, membuktikan sebuah fakta mengejutkan. Rasa sakit akibat kehilangan sesuatu itu secara psikologis terasa dua kali lipat lebih menyakitkan dibandingkan kebahagiaan saat mendapatkan hal baru. Saat kita ditawari peluang baru, otak reptil kita langsung membunyikan alarm. "Bagaimana kalau gagal?" "Bagaimana kalau rasanya lebih buruk?" Rasa takut ini begitu nyata. Namun, di sinilah letak jebakan terbesarnya.
Jebakan terbesar dari status quo bias adalah ilusi bahwa tidak melakukan apa-apa itu bebas risiko. Padahal, secara ilmiah dan historis, diam adalah sebuah keputusan aktif. Ketika perusahaan raksasa seperti Kodak menolak beralih ke kamera digital demi melindungi bisnis film seluloid mereka, mereka pikir mereka sedang bermain aman. Kenyataannya, mereka sedang menggali kubur sendiri. Ini adalah momen pencerahan yang perlu kita sadari bersama. Biaya dari tidak melakukan apa-apa sering kali jauh lebih besar daripada biaya kegagalan mencoba hal baru. Otak kita sangat pintar menghitung risiko dari sebuah perubahan. Sayangnya, otak kita sangat bodoh dalam menghitung harga dari sebuah penyesalan. Ketika kita menolak peluang baru, kita sebenarnya tidak sedang mempertahankan kenyamanan. Kita hanya sedang menunda ketidaknyamanan ke masa depan. Kita terjebak dalam default yang lambat laun akan kedaluwarsa.
Saya tahu, melepaskan cengkeraman dari hal yang sudah familiar itu sangat menakutkan. Sangat wajar jika kita merasa cemas. Otak kita memang dirancang untuk sedikit paranoid agar kita tetap hidup. Tapi, teman-teman, kita tidak lagi hidup di sabana di mana mencoba buah baru berarti mati kelaparan. Dunia modern menawarkan ruang yang sangat luas untuk gagal dengan aman. Jadi, mari kita ubah cara kita bertanya pada diri sendiri. Alih-alih bertanya, "Apa yang akan hilang jika saya mencoba mengubah ini?" mari kita mulai bertanya hal lain. "Apa yang akan hilang jika hidup saya persis sama seperti ini dalam lima tahun ke depan?" Mungkin sudah saatnya kita berani mencentang kotak opt-out pada rutinitas yang tidak lagi menumbuhkan kita. Karena pada akhirnya, cerita terbaik dalam hidup kita tidak pernah ditulis dari dalam zona nyaman.